Sabtu, 17 Desember 2011

Masih Sulitnya Menanamkan Aspek Afektif di Pendidikan Matematika

Latar belakang saya mengambil judul ini adalah :


1. Tujuan pendidikan tidak terpacu selalu terhadap aspek kognitif dan lebih mengacu terhadap terhadap  aspek afektif
2. Kesuksesan seseorang tidak terpaku terhadap seberapa pintarnya mereka dalam kemampuan berpikir matematis tetapi lebih terpaku seberapa cerdasnya mereka mengatur sikap dan emosi  dalam kehidupan nyata ( source : ESQ)
Dalam pendidikan aspek afektiflah yang terpenting untuk ditanamkan pada siswa karena dengan adanya kecerdasan sikap, perilaku, dan siswa yang baik merupakan salah satu bukti kesuksessan dalam sebuah pendidikan. Aspek afektif biasanya meliputi nilai - nilai agama,budaya,sosial,psikologis, dan nilai - nilai lainnya yang terdapat dalam kehidupan sehari - hari kita.
Sesungguhnya aspek - aspek afektif yang terdapat dalam pendidikan matematika sangatlah banyak yang mengandung nilai positif untuk ditanamkan terhadap kehidupan sosial kita beberapa contohnya seperti :
1. Berpikir Optimis
2. Disiplin
3. Percaya diri
4. Pantang Menyerah
5. Sifat peduli
Sebenarnya masih banyak sikap - sikap positif lainnya yang terdapat dalam karakteristik pendidikan matematika. Saya memperoleh informasi ini berasal dari salah satu profesor di universitas saya.
Menurut saya ini merupakan salah satu masalah pada pendidikan matematika karena kita tahu selama ini tercapai tidaknya siswa mampu mengikuti pelajaran matematika terlihat dari data kuantitatif terhadap nilai ujian atau secara keseluruhan bedasarkan aspek kognitif. Karena kita tahu bahwa matematika adalah ilmu yang kaya akan angka, gambar grafik, bahasa simbol, dan ilmu yang berpacu terhadap pola pikir deduktif. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ilmu matematika adalah ilmu yg abstrak.
Dari karakteristik matematika itu sendiri kita tahu betapa sulitnya untuk menanamkan aspek afektif  di pendidikan matematika kepada siswa yang sesungguhnya banyak sekali nilai - nilai aspek afektif  yang positif untuk diterapkan kehidupan sehari - hari.Akan tetapi, mengapa selama ini justru kebanyakan orang menganggap orang yang jenius dalam pelajaran matematika itu identik selalu introvert(menutup diri), tidak suka bersosialisasi, egois, dan tidak pandai dalam berkata. Itu yang menjadi salah satu hal yang bertentangan terhadap aspek afektif di dalam pendidikan matematika.
Saya selaku calon guru matematika ini merupakan salah satu tantangan buat saya untuk menanamkan sesungguhnya aspek afektif yang terdapat dalam pendidikan matematika, yaitu menanamkan siswa saya untuk berpikir optimis, percaya diri , pantang menyerah, dan sikap positif lainnya yang dapat menuntun mereka menjadi orang yang sukses dengan berkepribadian yang positif di masa kelak.

   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar