Rabu, 21 Desember 2011

Problem of Mathematics-Kurang Relevannya Sistem Pembelajaran Siswa Aktif dengan Standar Isi dan Struktur Kurikulum Pendidikan Matematika-

Pendidikan adalah salah satu sektor yang sangat berpengaruh dalam suatu negara, bahkan di negara – negara yang maju, pendidikan merupakan sektor utama yang paling penting untuk diperhatikan dalam terjalannya perkembangan negara tersebut. Matematika adalah salah satu bidang studi yang menjadi dasar dari semua gudang ilmu pelajaran, jadi sangatlah penting untuk diperhatikannya masalah – masalah yang dihadapi pada pendidikan matematika. Menurut saya, masalah pokok pada pendidikan matematika adalah sistem pembelajaran matematika dan kurikulum pendidikan matematika Indonesia. Maksud saya disini adalah keterkaitan antara sistem pembelajaran untuk di kelas dengan standar isi dan struktur dari kurikulum pendidikan matematika yang masih kurang relevan dan efektif. Model pembelajaran matematika mengalami perkembangan-perkembangan. Awalnya model pembelajaran matemnatika memakai model pembelajaran matematika tradisional, ciri umumnya siswa diajari untuk mengasah otak dan menghapal. Kemudian karena adanya pengaruh dari perkembangan matematika internasional terutama adanya penemuan-penemuan baru mengenai teori belajar maka pemerintah menerapkan kurikulum baru yaitu kurikulum tahun 1974. Ciri pembelajaran matematika saat itu mengedepankan belajar bermakna, siswa bukan hanya sekedar menghapal namun mengahapal setelah tahu makna yang dihapal. Kemudian tahun 1984 kembali pemerintah mengeluarkan kurikulum baru dimana ilmu komputer yang saat itu mulai berkembang dimasukkan dalam mata pelajaran matematika dan ilmu kalkulator disisipkan sebagai pokok bahasan dalam mata pelajaran matematika. Kemampuan hitung-menghitung ternyata belum cukup untuk membekali siswa didik dalam menghadapi kehidupan maka mulai tahun 1994 pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dengan menerapkan kurikulum baru dengan ciri umum menyertakan permasalahan permasalahan kontekstual dalam materi pelajaran. Soal-soal cerita disetiap akhir pokok bahasan merupakan hal yang tak pernah ketinggalan dan mudah dijumpai pada buku-buku pelajaran matematika saat itu. Namun hal ini dirasa juga belum cukup sebab terbukti banyak lulusan yang tidak mampu menyeleasaiakan permasalahan sederhana dalam kehidupannya, akhirnya pemerintah mengeluarkan kurikulum baru yang mengedepankan permasalahan kontekstual dalam mengawali pembelajaran dan ketuntasan belajar dalam setiap kompetensi dasar. Dalam kurikulum pembelajaran matematika mempunyai beberapa tujuan khusus antara lain : 1.Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi 2.Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba. 3.Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah 4.Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Contoh materi pembelajaran matematika 1.Pemecahan masalah Contoh materi pelajaran kelas I SMP bab Aritmatika sosial Pak Anwar mempunyai dua orang anak laki-laki yaitu Ibrahim dan Ahmad. Pada pekerjaan pembangunan rumah, kedua anak pak Anwar berjanji akan membantu dalam pembangunan tersebut. Pak anwar memberi gaji kedua anaknya masing-masing Rp. 7000,00 perhari. Setelah satu minggu pak anwar memanggilnya, apa yang terjadi? Apakah ada kaitannya dengan gaji yang akan diterima kedua anaknya? Jawaban dari persoalan diatas dapat dilihat dari aspek kognitif yaitu dengan menghitung gaji kedua anak pak anwar dengan cara mengalikan gaji perhari dengan bilangan tujuh untuk mendapatkan besarnya gaji selama seminggu untuk setiap anaknya. Namun persoalan tersebut juga dapat dilihat dari aspek afektif yaitu mengenai etis dan tidaknya anak membantu orang tua dan maminta upah. Contoh pelajaran matematika kelas I SMP Bab operasi Bilangan Pecahan Buatlah lima kartu bilangan dengan bilangan 11, 14, 3, 19 dan 9 pada masing-masing kartu. Gunakan bilangan-bilangan tersebut tepat sekali dengan berbagai operasi hitung sehingga diperoleh hasil satu sampai sebelas! Jawab (11+14-19+3):9=1 Soal di atas dapat digunakan untuk melatih kecepatan dan melatih keahlian siswa dalam operasi hitung sehingga siswa terasah aspek psikomotoriknya. 2.Mengkomunikasikan gagasan dengan topik dalam wujud tulisan Contoh materi pelajaran kelas I SMP Bab pecahan Soleh makan kue coklat 2/8 bagian loyang, dan Muklis makan kue coklat ¼ bagian loyang. Tetapi Muklis makan lebih banyak dari pada Soleh. Jelaskan mengapa hal ini bisa terjadi padahal 2/8 sama dengan ¼? Soal diatas dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menggali gagasan dan mengkomunikasikan gagasannya dalam bentuk jawaban tertulis. Hal lain adalah membuat soal. Membuat soal merupakan hal yang penting bagi siswa, sebab tidak semua siswa mampu melakukan hal yang demikian walaupun siswa tersebut sudah menguasai topik yang diajarkan oleh guru. Kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan topik perlu dilatih dan diajarkan guru kepada siswa. Berikut ini adalah contoh bagaimana melatih siswa untuk membuat soal; Buatlah soal cerita dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar yang jawabannya adalah (12 x Rp. 350.000,00) – (15% * ( 12 x Rp 350.000,00) = Rp. 3.570.000,00 3.Pendekatan soal terbuka Tujuan pembelajaran dari hal ini adalah untuk melihat keragaman pemikiran siswa, melatih siswa berdemokrasi menghormati jawaban siswa yang lain (aspek afektif). Contoh materi pelajaran kelas II SMP Bab garis-garis lurus Diberikan tiga fungsi-fungsi berikut ; Y=1/2 X + 3 Y= -1/2 X + 5 Y= 3 X – 2 Ambil dua dari tiga fungsi di atas dan tentukan sebanyak mungkin persamaan ketiga fungsi tersebut! Dari berbagai contoh materi pembelajaran matematika di atas, terlihat dengan jelas aspek penerapan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dalam soal-soal matematika. Penilaian portofolio Penilaian berbasis kompetensi mempunyai prinsip belajar tuntas (mastery learning), siswa tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik. Dan, salah satu mmodel yang cocok dengan prinsip tersebut adalah model penilaian portofolio. Model penilaian portofolio menggunakan acuan penilaian kriteria, yang intinya adalah bahwa a.Semua anak memiliki kemampuan yang sama dan bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan untuk mencapai kemampuan tertentu berbeda. b.Standar ketuntasan harus ditentukan terlebih dahulu c.Hasil penilaian; lulus dan tidak lulus Berkaitan dengan ketuntasan, nilai ketuntasan ideal untuk standar kompetensi adalah 100, sementara guru dan sekolah dapat menetapkan nilai ketuntasan minimum secara bertahap dan terencana agar memperoleh nilai ideal. Kemudian nilai ketuntasan minimum per mata pelajaran ditetapkan berdasar tingkat kesulitan dan kedalaman kompetensi yang harus dicapai siswa. Sementara itu siswa yang belum tuntas harus mengikuti program remedial. Model program remedial dapat berbentuk pemberian tugas, pembelajaran ulang plus ujian, belajar mandiri plus ujian, langsung ujian, belajar kelompok dengan bimbingan alumni dan lain sebagainya. Aspek yang diukur dalam penilaian portofolio adalah tiga ranah perkembangan psikologi anak yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. 1.Perilaku kognitif Berdasar taxonomi cognitive Bloom, ada enam tingkat kognitif berpikir a.Pengetahuan (knowledge) : kemampuan mengingat (misal mengingat rumus) b.Pemahaman (comprehension) : kemampuan memahami (menyimpulkan suatu paragrap) c.Aplikasi (application) : kemampuan penerapan (misalnya menggunakan informasi/pengetahuan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah) d.Analisis (analysis) : kemampuan menganalisis suatu infomasi yang luas menjadi bagian-bagian kecil (misalnya menganalisis bentuk, jenis atau arti) e.Sintesis (syntesis): kemampuan menggabungkan beberapa informasi menjadi kesimpulan (misalnya memformulaisian hasil penelitian) f.Evaluasi (evaluation) : kemampuan mempertimbangkan mana yang baik untuk mengambil tindakan tertentu). 1.Perilaku afektif Mencakup penilaian ;perasaan, tingkah laku, minat, kesukaan, emosi dan motivasi. 2.Perilaku psikomotorik Mencakup penilaian keahlian. Penilaian psikomotorik dalah penilain pembelajaran yang banyak menggunakan praktek seperti agama, kesenian, olahraga, IPA dan Bahasa, semsntara itu untu mata pelajaran yang tidak ada kegiatan prakteknya tidak ada penilaian psikomotoriknya. Bentuk instrumen dan jenis tagihan yang digunakan untu penilaian portofolio adalah tes tertulis (obyektif dan non obyektif), tes lisan (wawancara), tes perbuatan (lembar pengamatan), non tes (angket, kuisioener) dan produk/laporan/hasilkarya( daftar cek/pedoman penskoran). Dari sistem pembelajaran matematika di atas kita juga harus dapat menyesuaikan dengan standar isi kurikulum pendidikan matematika yang ada. Dan kita tahu bahwa standar isi pendidikan matematika di Indonesia tidaklah sedikit melainkan dapat dikatakan sangat banyak. Dengan menggunakan sistem pembelajaran yang mengedepankan siswa aktif, kita memerlukan waktu yang sangat banyak dalam mengaplikasikannya di dalam kelas. Sehingga, pada kenyataannya sistem pembelajaran siswa aktif masih belum efektif diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas karena standar isi kurikulum yang terlalu banyak dan struktur kurikulum yang masih kurang relevan, dimana hasil pembelajaran banyak dilihat dari aspek kognitifnya yaitu melalui standar ujian nasional. Menurut saya inilah masalah pokok yang harus diperhatikan yaitu berawal dari sebuah sistem pembelajaran dan kurikulum yang dibuat. ALTERNATIF SOLUSI / SARAN Menurut saya, agar tercapainya tujuan pendidikan yang mengedepankan siswa aktif, kita perlu sedikitnya merevisi standar isi yaitu dengan meminimalisasikan materi yang ada, kita perlu mempertimbangkan materi yang lebih aplikatif digunakan di kehidupan dunia nyata untuk siswa. Dengan materi matematika yang begitu banyak teori dengan sistem pembelajaran siswa aktif itu tidak begitu cocok, sehingga tidak salahnya kita lebih memilih beberapa materi matematika yang lebih aplikatif. Seperti halnya di negara – negara maju yang dalam kenyataannya teori matematika mereka tidak begitu mendalam, akan tetapi beberapa materi seperti statistika, mereka lebih jauh melangkah ke depan standar kompetensinya dari kita. Karena menurut mereka, materi statistikalah yang paling aplikatif di kehidupan sehari-hari dan dunia kerja. Maka dari itu, kita tidak perlu berlebihan memberikan standar isi materi yang begitu banyak, kita bisa memberikannya sedikit tetapi berguna untuk kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar